Pages

  • sitemap
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • contact us
  gingerale
  • Home
  • Kesehatan Mental
  • Opini
  • Cerpen



Jika mendengar kata introvert, orang-orang sering berasumsi bahwa mereka adalah orang yang sombong, tidak suka bersosialisasi atau malah si cupu di pojokan kelas. bahkan parahnya ada yang menganggap bahwa introvert adalah mereka yang ansos, padahal hal tersebut belum tentu demikian. Seperti yang pernah dibahas di artikel sebelumnya tentang salah kaprah orang-orang tentang introvert (klik disini) banyak yang masih salah mengartikan kepribadian tersebut. 

Introvert  vs  Extrovert

Introvert mengisi energi mereka waktu sendiri atau “me time” dan energi mereka cenderung terkuras jika berada di tengah keramaian (ex : pesta).Introvert adalah mereka yang lebih terfokus pada kualitas interaksi dibandingkan dengan kuantitas. Mereka lebih menyukai mendiskusikan topik yang dalam pada sebuah kelompok kecil. Ini dikarenakan mereka yang pemikir dan sering terhanyut dalam fikiran mereka sendiri. 

Sebaliknya extrovert mengisi energi mereka ke luar yang membuat  mereka cenderung banyak bicara, mudah bergaul dengan orang baru, cenderung memiliki relasi yang banyak, dan senang berbagi cerita pada orang lain. Mereka biasanya menyukai pesta atau sebuah event yang dihadiri orang banyak karena dengan hal itulah mereka mengisi energinya.



Pada sistem sekolah, lingkungan kerja, dan masyarakat, extrovert seolah lebih unggul dan menjadi pusat perhatian dengan kepribadian mereka yang talkactive, ceria, dan mudah bergaul. terkadang, hal ini membuat introvert kesulitan dengan kepribadiannya yang tidak suka menjadi “center” untuk mengimbangi sistem yang telah ter-design sempurna dengan kepribadian-kepribadian yang ada pada extrovert. Kenyatannya, kita yang introvert bisa untuk berada dan mengimbangi diri di dunia extrovert dengan tetap menjadi diri kita sendiri yang introvert.



Lantas, Apa yang Bisa Kita Lakukan?


1.      It’s good to be you
Beberapa orang yang terjebak di dalam dunia extrovert, ingin merubah diri mereka untuk dapat menjadi seperti extrovert. Kenyataannya, kepribadian tidak dapat dirubah. Terimalah diri mu yang berbeda dari mereka dan cintai diri mu sendiri dengan apa adanya dirimu.

You Good GIF - Yougood Modernfamily - Discover & Share GIFs


2.      Get comfortable at being unconfortable
Sesekali keluarlah dari zona nyamanmu dan berinteraksi dengan orang sekitar. Ini pada dasarnya berarti bahwa jika kamu dapat merasa nyaman dalam situasi yang tidak nyaman, kamu akan siap untuk menangani situasi apa pun yang terjadi dalam hidupmu sendiri.

Are YOU ready to step out of your career comfort zone? – Stepping out… 


3.      Find time to recharge
Mungkin saat di luar kamu terpaksa untuk menghabiskan energi dengan berdisikusi pada forum besar, atau seperti saat berada di sebuah event yang memaksa kamu untuk bercakap-cakap dengan para undangan. Ingat untuk  meluangkan waktu sejenak untuk me-recharge dirimu agar dapat memaksimlkan diri saat berhadapan dengan orang banyak.

Recharged GIFs - Get the best GIF on GIPHY

4.      Learn to smile
Tersenyum membuat kita tampak ramah, dan lebih mudah untuk didekati. Jadi, dengan tersenyum akan membuat orang tidak ragu untuk bersosialisasi dengan kita.


Smile Please GIFs | Tenor


0
Share



Apakah memendam emosi-emosi negatif akan selalu membuatmu bahagia?


pernah dengar istilah Toxic Positivity?

Seperti namanya, toxic positivity, merupakan ungkapan berupa kalimat atau kata kata yang seolah positif namun didalamnya toxic. Mungkin tidak banyak yang menyadari jika selalu berada dalam  "positive vibes" dan mensugesti diri untuk tidak boleh beremosi negatif memiliki sebuah sisi yang tidak sehat alias dark side yang membuat kita kemudian merepresi perasaan dan denial dengan hal tersebut. Atau kemudian malah kita yang terjebak dalam hal itu sehingga saat orang lain berkeluh kesah pada kita alih-alih untuk didengarkan sebagai teman curhat, kita malah melemparinya dengan kalimat seperti

"masih ada sih yang lebih susah dari kamu diluar sana, semangat aja"

"itu masalah kecil, aku udah pernah kok di posisi itu"

"udah udah jangan nangis ya, nanti cantik kamu hilang loh"

Dan kalimat sejenisnya..



Sebenarnya mengapa orang cenderung menganggap emosi negatif selalu sebagai sesuatu yang buruk? Padahal kenyataannya seseorang yang mengalami emosi buruk pada suatu waktu tidak kemudian membuatnya menjadi orang yang buruk pula. "Having a negative emotion doesnt makes you being a negative person." Kita adalah manusia biasa dan merupakan sebuah hal normal bila merasa sedih, marah, kesal, kecewa, sakit hati, dan berbagai emosi-emosi negatif lainnya.


Merepresi atau memendam sesuatu secara terus-menerus akan membuat kamu lelah dan itu akan masuk ke alam bawah sadar kamu. Tokoh besar Psikologi Bapak Sigmund Freud berkata
"Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways"

 nah, jika kamu memendam sesuatu tidak semerta-merta perasaaan itu hilang begitu saja, emosi tersebut dapat muncul sewaktu-waktu dengan cara yang bahkan lebih buruk seperti bom waktu yang dapat meledak hanya karna senggolan kecil.

lantas kemudian saat kita memiliki masalah kita perlu melampiaskan emosi-emosi negatif tersebut? Tentu dengan cara yang sewajarnya.  Pelampiasan dengan bentuk agresi juga bukanlah hal yang sehat. Coba untuk merima perasaan itu, akui dan validasi. Saat kita merasa sedih, ya sedih saja tidak perlu memakai topeng kebahagiaan. Tapi jangan terlarut terlalu lama dalam perasaan sedih itu yang kemudian malah membuat kamu tenggelam didalamnya.





2
Share


Aku membuka pintu, sambil memandang penampakan awal pagi yang asri. Kuhirup udara nya, sejuk sekali.

Bangku didepan teras seperti memanggilku untuk sejenak berdiam diri di kayu rotan itu. Ah, kuturuti saja.

06.02
Aku duduk menikmati pagi
0
Share



kita yang mayoritas dimanjakan dengan berbagai fasilitas keislaman yang mudah sekali kita jumpai di negara tercinta ini indonesia. saat puasa kita sama-sama berpuasa menahan lapar hausnya dahaga, saat kita sedang diluar ada banyak sekali masjid atau mushola yang bisa kita temui dimana-mana. sama halnya dengan mereka di negara Cina, yang beragama Budha sebagai mayoritas disana dimanjakan juga dengan fasilitas beribadah mereka. dibelahan Eropa sana mayoritas adalah umat kristiani, dan sama sebagai mayoritas, mereka bisa melakukan ibadah sesuai kepercayaan mereka dengan lebih mudah. lantas, si minoritas sering kali tertindas yang berakar pada intoleransi.

sebelum ngomongin intoleransi diluar agamanya sendiri, orang-orang yang aku amati masih banyak yang dengan saudara seagamanya kurang rasa toleransi. misalnya, beda ustadz atau aliran mereka merasa harus dimusuhi, dijauhi, di hujat, dsb. mereka yang aliran A merasa sangat anti terhadap aliran B, padahal keimanan seseorang itu dan kebenaran hanya Allah yang maha tau (beda kalo ngomongin aliran sesat). bahkan agama tidak bisa dipakai logika, agama itu dirasakan di dalam hati. ketika melihat saudara seagama tidak seperti mereka yang dia asumsikan alim yang sering membagikan quotes dan video dakwah di sosmednya misalnya, dia kemudian melihat si orang yang tidak seperti itu kurang iman atau tidak tebal imannya, padahal mungkin cara dia mencintai islam saja yang berbeda, dan lagi kenapa kita harus menilai-nilai keimanan seseorang yang sebastrak itu? kedua orang itu memiliki cara mencintai islam yang beda dan tidak ada yang salah dari itu.


kalo kita mau mengajak orang ke islam yang luar biasa indah dan damai ini, ayolah kita tunjukan dengan keindahannya, bukan dengan dakwah yang keras, atau bahkan sampe memaksakan orang lain, dan jangan sampe kita terjebak dalam fitnah agama. mulailah dari prilaku kita, cara bertutur kata yang baik, dan bertoleransi dengan orang yang bersebrangan dengan kita. bukankah nabi kita mengajarkan pada kita di kisahnya yang memberi makan pengemis buta Yahudi untuk bisa bertoleransi pada sesama manusia di muka bumi ini (baca kisahnya disini)



prophet Muhammad SAW. Said
The Best of Islam is to Behave with Gentleness and Tolerance.









0
Share

media sosial sekarang jadi konsumsi sehari-hari berbagai kalangan, dari anak belia sampai juga dewasa. tiap hari disuguhkan berbagai cerita kehidupan orang dari sebuah layar kecil segi panjang alias smartphone. melihat kehidupan orang yang menarik terkadang menjadi toxic untuk diri sendiri, dan lupa kalo sejatinya media sosial itu manusia memang akan berlomba menunjukkan diri dan kehidupan yang dimiliki sebagai sesuatu yang menarik untuk dilihat publik, karena logikanya untuk apa membagikan cerita kita yang jelek-jeleknya. beberapa orang terjebak dalam kepalsuan yang di design sempurna itu, dan malah menjadikan boomerang untuk kesehatan mentalnya. 
1
Share






"Eh ada toko sayur baru buk disebelah"
"Jangan deh kesana, mahal"
"Ibu udah kesana ya?"
"Belum, tapi kan yang jualan cina, bakalan mahal tuh"



Dari dua contoh diatas, diskriminasi usia dan ras kerap terjadi di sekitar kita. Selain yang diatas, jenis kelamin, agama, suku, pekerjaan, warna kulit, juga sering dijadikan alasan seseorang menyimpulkan dengan cepat (namun belum tentu benar) akan sesuatu. Dari kegelisahan yang kerap kita temui tentang orang-orang yang mudah Menilai orang lain, bahkan sesuatu yang abstrak seperti Menilai keimanan orang, kita memang sering terjebak dalam keyakinan kita sendiri. Seseorang yang menilai semua orang bercadar sebagai teroris, mungkin karena seringnya dia menyaksaksikan dimedia tentang pengebom adalah orang yg kebetulan menggunakan cadar. Atau, seseorang menilai jika semua orang batak itu kasar, hanya karena kebetulan beberapa teman dia dikelas yang batak itu kasar. Padahal kenyataannya tidak semuanya begitu.



Pertanyaannya, kenapa bisa begitu?





Stereotypes

Merupakan sebuah keyakinan tentang seseorang berdasarkan karakteristik dari suatu kelompok tertentu, atau disebut juga "jalan pintas" dalam berfikir. Bisa negatif, positif, ataupun netral, namun akan selalu negatif jika diikuti oleh prasangka.

Contoh
Orang sipit = orang cina
Orang kulit hitam = orang afrika
Orang nerd = culun
Politikus = banyak mengumbar janji
Wanita = lemah
Orang jawa = halus, gemulai
Orang padang = pelit
Dokter = pintar, sibuk
《Padahal kenyataannya hal-hal diatas belum tentu benar》



Prasangka (prejudice)

Sikap negatif terhadap suatu kelompok dan menggeneralisasi semua anggota kelompoknya.

Contoh :

- karena memiliki anggapan bahwa orang batak kasar, dia tidak mau berteman/menjauhi semua orang batak

- karena pernah tidak dipinjamkan suatu barang oleh temannya yang kebetulan orang cina, dia membenci semua orang cina

Kuatnya prasangka dalam berfikir dapat mendorong terjadinya diskriminasi



Diskriminasi

Prilaku negatif terhadap orang lain yang menjadi target prasangka

Contoh :

- Seorang yang bercadar dianggap teroris kemudian tidak dilayani ketika sedang berbelanja di toko

- seorang yang berkulit hitam dibully karena dianggap berbeda








Pertanyaan selanjutnya, kenapa seseorang yang berada pada kelompok tertentu cenderung menilai kelompoknya lebih unggul dari kelompok lain?




Ingroup vs outgroup




Ingroup bias adalah ketika seseorang menganggap kelompoknya lebih unggul dari kelompok lain diluar kelompoknya (outgroup). Sehingga tercipta persepsi bahwa kelompok lain salah serta kecenderungan memperlakukan lebih positif kelompoknya daripada kelompok lain.

Contohnya :

- Ketika seseorang dimintai bantuan dia lebih mendahulukan anggota kelompoknya padahal orang yang diluar kelompoknya itu lebih membutuhkan bantuannya

- saat tim anggota kelompoknya maju dia bersorak untuk menyemangati, sedangkan ketika tim sebelah maju dia biasa saja







Itulah beberapa kesalahan-kesalahan kita dalam berfikir yang kadang tidak kita sadari. Karena kenyataannya tiap individu akan berbeda dari individu lain. Ketika kita tidak terjebak dalam hal-hal diatas, mungkin hidup kita akan lebih saling bertoleransi dan terhindar dari perpecahan antar golongan sehingga kita dapat menjalani hidup dengan lebih damai. 




0
Share
aku tak mengerti kenapa dia harus dipisahkan dari kami.

sejak aku lahir, aku dan dia sudah tinggal di tempat yang berbeda. kuharap dia baik-baik saja dengan rumahnya yang abi bilang sebagai 'tempat belajar menguatkan diri'.

saat aku bertanya pada Abi, kenapa aku gak ditempatkan juga disana supaya jadi kuat, abi menjawab "kamu sudah cukup kuat, Kaira"


hari ini kami akan berkunjung. sebentar, biar kubaca, 'rumah sakit jiwa'

"abi, apa jiwa kak Yiska sedang sakit?"

abi tersenyum, namun bukan senyum yang tampak bahagia,
"kak Yiska sedang belajar disini, bukan sakit, dia akan menjadi orang yang lebih kuat" jawaban yang selalu sama.

kami melangkah masuk ke gedung itu. lorong demi lorong kami masuki. Ah, ada yang mengagetkanku. teman kak Yiska ini memelototiku dan mengikuti langkahku dan abi.
abi berbisik,
"terus jalan kedepan, jangan hiraukan, anggap saja tidak ada apa-apa"
aku mengangguk. kulihat banyak teman kak Yiska yang aneh. ada seorang ibu disana yang mengobrol dengan boneka, seperti aku waktu 2 tahun yang lalu, saat usiaku masih 3 tahun. didepan kami ada seorang anak kecil yang berpose aneh. dia seperti ingin terbang, mengepakkan sayapnya, namun kemudian diam, dan menggulanginya lagi. kukira dia juga sedang menghayalkan sesuatu. mungkin.

"nah, itu dia kak Yiska" ucap Abi
"Kaira, nanti kalo hal yang seperti dulu terjadi lagi, kamu lari duluan saja. biar abi yang urus kak Yiska, oke?" tambah abi
"oke." jawabku

semoga saja hal itu tidak terulang lagi. 


kami melangkah mendekati kak Yiska. dia sedang bersama dengan guling berdasternya itu lagi. bicara layakny akrab sekali.
"hai anak Abi... kamu udah makan sayang?" sapa Abi yang langsung memeluknya

diam saja, seperti biasa. sama saja.
aku sedikit gugup saat matanya mulai menatap kepadaku,
"hai kak, kakak apa kabar?" sapa ku
dia melotot. seperti ingin berdiri dan menyerangku. diikuti dengan teriakannya "kamu pembunuh! kamu pembunuh!!!" dia meronta-ronta, abi tentu saja menahannya disana, mengode pada ku untuk bergegas pergi.


Ya. aku berlari, pergi, menjauh dari mereka. suster bilang dia benci pada anak kecil seusiaku. aku sudah sering melewati ini, jadi tidak ada air mata seperti tahun-tahun sebelumnya. mungkin.. karena sudah terbiasa. aku juga sudah mempersiapkan diri. yang pasti aku bertekad untuk kembali sebagai seorang Ahli yang nantinya menyembuhkan dia. dan mengerti kenapa dia selalu berteriak hal yang sama.

kak, tunggu kaira.



0
Share
Gambar terkait




Banyak sekali orang yang salah mengartikan tentang kepribadian "introvert". Bahkan, tidak sedikit orang yang ketika mendengar kata introvert tertuju pada hal-hal negatif yang mereka pikirkan yang sebenarnya belum tentu benar. dari video psych2Go diatas, kita dapat lebih mengerti dan memahami apa dan bagaimana kepribadian introvert itu sebenarnya. Kepribadian tidak sehitam-putih yang kebanyakan orang fikirkan. Kita bisa sepenuhnya A ataupun hanya seperempat A.
0
Share


bukankankah tingkat keimanan seorang hamba hanya diketahui oleh tuhannya? lucu ketika seseorang dapat mengatakan keimanan A lebih tinggi dari B. who knows the other people's heart? 


menurutku hubungan hamba dan tuhannya sangat privasi.
0
Share

Aku masih bocah. Baru menduduki bangku SMP kelas 1.

Seorang guru berdiri didepan kelas, Bu Rea namanya, guru Bahasa Jepang. Dia memakai setelan baju yang anggun. Corak batik modern terdapat di saku bajunya, menggunakan kulot yang selaras dengan hijabnya menambah enak dipandang mata. Aku suka seni.

Dia baru saja masuk 3 menit yang lalu, sedang berceramah asik didepan kelas. Aku mengamatinya. Tidak seheboh temanku yang lain.
“Bu Rea itu.. buat aku jadi semangat dan kata-katanya itu luar biasa” begitu kata Antonius, temanku.

Aku suka dengan keceriaan yang bu Rea hadirkan setiap dia mengajar, sungguh aku menghargainya. Hanya saja mungkin ada kesalahan, padaku atau padanya, aku juga tak yakin.

--------

Tahun berganti tahun. Sekarang aku memakai seragam putih abu-abu, yang katanya masa-masa indah kehidupan, masa-masa yang takkan pernah terlupakan. Oh ya? Sayangnya aku sudah kelas 12 dan biasa saja. Aku lebih menyukai masa SMP dimana anak-anak polos berbaur dengan manis tanpa kenal pendusta, penikung, penjilat, ataupun cewek-cewek yang belum pake riasan menor di wajah, haha.
    
Namaku Raka, Raka Antrio. Beberapa orang memanggilku Rio, atau An, tapi aku lebih suka dipanggil Raka. Ngomongin nama, aku jadi teringat Gea, dulunya temanku. Anaknya cantik dan imut. Dia memanggilku Trio, menyebalkan, tapi aku menyukainya. Dia selalu membuatku seperti membeku, atau berdebar-debar, padahal aku waktu itu masih bocah, kelas 2 SMP. Sekarang kami di SMA yang sama, sekelas dan sebangku. Dia banyak berubah, sekarang lebih anggun, tapi tetap cerewet. Dan, Sekarang dia pacarku.

Kepada Gea aku suka membagikan isi pemikiran ataupun cerita-cerita kehidupanku. Dia pendengar yang baik, walaupun buka perespon yang hebat. Aku menyayanginya. Apakah rasa sayang adalah sebuah seni?

Aku suka seni, melukis hobiku. Tapi, aku juga suka hal lain, seperti matematika dan ilmu logika, juga sains. Gea bilang aku rakus ilmu, tapi aku merasa aku bukan apa-apa. Bahkan satu hal yang aku tidak pernah tau, cita-cita ku. Aku hanya mengalir mengikuti apa yang otak ku ingin isi. Aku tidak menuntut tuk makan sebanyak mungkin ilmu A atau B. Aku hanya memfasilitasi keinginan otak ku saja. Tapi, hal ini membingungkanku.

Cerita temanku Fatih, melanjutkan sekolah pilot, karena cita-citanya dari SD. Atau Luis yang mati-matian belajar tuk bisa masuk perguruan tinggi mengambil hukum dan nantinya mengarah pada jaksa. Aku jadi teringat pada Bu Rea, yang tiap masuk ke kelasku tidak bosan memotivasi anak muridnya tuk menggapai cita-citanya. Aku punya cita-cita yaitu jadi orang sukses. Aku menyukai dan menikmati setiap ilmu. Bagiku ilmu itu luar biasa indahnya, apakah ilmu sebuah seni?

Aku percaya satu hal, semua telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Cita-cita adalah sebuah penyemangat. Aku takut bercita-cita luar biasa yang nantinya hanya sia-sia. Aku memiliki penyemangat dengan hal lain, seperti orang-orang yang menyayangiku, temanku yang luar biasa mendukung aku, dan keluarga yang sangat mencintaiku. Aku jadi apa? kuserahkan saja padaNya. Ilmu itu luar biasa hebatnya, aku sangat mencintainya.





0
Share

30/03/18. aku pernah bertemu dengan seseorang yang sangat menyebalkan dimana dia seperti sungguh khatam mengetahui hidup orang lain. maksudku adalah..   aku sering sekali merasa tidak mengerti atau tidak tau mengenai diri sendiri dan orang tersebut sangat sok tau tentang orang lain, agak lucu. itu tidak semudah itu memahami seseorang yang bahkan kamu tidak pernah atau jarang bertemu, berbicara, bahkan tidak pernah bertukar pikiran dengan orang itu. “kemungkinan” atau “prediksi” bisa jadi untuk difikirkan tapi untuk benar-benar tau tentang orang lain, kehidupan orang lain,tidak gampang.

    “aku paham banget dengan dia tuh. Tiap hari ketemu dikelas kerjaannya game aja. Terus cara berpakaian dia juga kayak sok hits banget. Aku yakin dia tuh tukang abisin duit orang tua aja, gimana enggak, liat aja semua yang dipakainya branded padahal gak kaya2 amat kalo diliat dari rumahnya. Udahlah pemalas belajar, tukang abisin duit orang tua aja”

Anggaplah itu sebuah bentuk opini dari temannya si A dikelas. Ya, semua orang memang bebas beropini, perpendapat, ataupun menilai orang lain. BUT, semudah itukah untuk kamu bisa menilai orang? Semudah itukah kamu bisa me “label” orang lain tanpa tau alasan dia sebenarnya? Tanpa mengerti tentang orang itu sendiri?
Untuk kasus diatas,

0
Share
"Mari duduk dan bercerita"
"Sambil menegukkan capucinno hangat ini, pastinya nikmat" Dia tersenyum manis dihadapanku
-----
Pukul 16.00. Aku berjumpa dengan Dia, seseorang yang bahkan tidak bisa aku deskripsikan.

Kami mengobrol basa-basi, bertanya kabar, dan sebagainya, mungkin sekitaran 30 menitan, sambil terus berjalan mengitari kota. Sampai akhirnya, berhenti disebuah kedai coffee yang manis sekali tatanannya. Dia terpukau, mengajakku untuk mampir sebentar.

0
Share
ketika itu, aku sedang duduk di keramaian kantin menikmati ramen favorite. Sruuupp.. mie nya enaak sekali.. ditemani Arinoma dan Kugumi, kami mengisi perut yang lapar.

Kugumi tiba-tiba diam, lalu menatapku dan arinoma dengan tatapan yang serius. Kami bengong sambil menduga-duga ada apa dengan kugumi.
"Aku..... " sepatah kata keluar dari mulutnya. kami terus menatap dengan serius sambil menduga-duga kalimat yang akan diucapkan kugumi selanjutnya.

Dia diam, menarik nafas. Dalam sekali tarikan nafasnya. Kemudian, mencoba untuk mengeluarkan kata-kata lagi. 

"Akuu.. " dia mulai lagi berkata. "Tidak bisa makan lagi ramen enak iniiii, huaaaaa" kalimatnya selesai sambil setengah berteriak mengucapkannya.
0
Share
Older Posts Home

Total Pageviews

About Me

My photo
bella
View my complete profile

Labels with list

cerpen Kesehatan Mental opini
Copyright © 2015 gingerale

Created By ThemeXpose